Saturday 5 March 2022

ASUHAN KEBIDANAN DASAR PADA Nn. N CALON PENGANTIN DENGAN KEK (KEKURANGAN ENERGI KRONIK)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Calon pengantin merupakan kelompok sasaran yang startegis dalam upaya peningkatan kesehatan masa sebelum hamil. Menjelang pernikahan, banyak calon pengantin yang tidak mempunyai cukup pengetahuan dan informasi tentang kesehatan reproduksi dalam berkeluarga, sehingga setelah menikah kehamilan sering tidak direncanakan dengan baik serta tidak di dukung oleh status kesehatan yang optimal. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan dampak negatif seperti adanya resiko penularan penyakit, komplikasi kehamilan, kecatatan bahkan kematian ibu dan bayi. Pemberian komunikasi informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi kepada calon pengatin sangat diperlukan untuk memastikan setiap calon pengantin mempunyai pengetahuan yang cukup dalam merencanakan kehamilan dan mempersiapkan keluarga yang sehat (Kemenkes RI, 2018).

Menurut data Kemenkes RI (2018) menyatakan keputusan tentang kesehatan reproduksi dan seksual bagi calon pengantin. Perwujudan generasi tersebut dimulai dari menyiapkan calon penganin (Catin) yang memiliki status tingkat kesehatan yang baik terutama calon pengantin perempuan yang kelak akan hamil dan melahirkan anak-anak bangsa dengan tingkat kecerdasan yang luar biasa (BKKBN, 2018)

Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2015 tentang Pembekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) Kesehatan reproduksi calon pengantin. Dasar hukum Imunisasi TT bagi calon pengantin 162- 3 1/PD.03.04.EL Nomor 02 tahun 1989 serta Peraturan Menteri Agama Nomor 19 tahun 2018 tentang pencatatan perkawinan (Kanwil Provinsi Aceh, 2019).

Berdasarkan Data Laporan Triwulan IV yang mengemukakan bahwa status kesehatan perempuan di Indonesia masih tergolong dalam kategori rendah, hal tersebut ditandai dengan tingginya angka persentase KEK (Kurang Energi Kronis) pada wanita usia subur sebesar 14,8%, angka anemia pada remaja sebesar 23,9% dan anemia pada ibu hamil sebesar 37,1%, 46.659 kasus HIV dilaporkan dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi dan kasus HIV/AIDS paling banyak ditemukan di kelompok umur 20-49 tahun (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2019).

Permasalahan kesehatan lainnya yang didasari dari data yang bersumber pada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Aceh diketahui jumlah kematian ibu resti (resiko tinggi) yang dilaporkan sebanyak 11 kasus dan lahir hidup 101.296 jiwa, maka rasio angka kematian ibu di Aceh kembali menunjukkan penurunan menjadi 139/100.000 lahir hidup. 8,7% KEK pada Ibu hamil dan 21,3% pada wanita usia subur (Dinkes Aceh, 2019)

Kekurangan Energi Kronik (KEK) masih menjadi permasalahan di Indonesia. Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah kondisi ketika seseorang mengalami kekurangan gizi yang berlangsung menahun (kronis) sehingga menimbulkan gangguan kesehatan (Prawita et al., 2017). Wanita dan anak-anak merupakan kelompok yang memiliki risiko paling tinggi mengalami Kekurangan Energi Kronik (KEK). Saat ini Kekurangan Energi Kronik (KEK) menjadi perhatian pemerintah dan tenaga kesehatan, karena seorang wanitas usia subur (WUS) yang mengalami KEK memiliki risiko tinggi untuk melahirkan anak yang juga akan mengalami KEK di kemudian hari. Disamping hal tersebut, kekurangan gizi menimbulkan masalah kesehatan morbiditas, mortalitas, dan disabilitas, juga menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa. Dalam skala yang lebih luas, kekurangan gizi dapat menjadi ancaman bagi ketahanan dan kelangsungan hidup suatu bangsa (Paramata & Sandalayuk, 2019).

Upaya meningkatkan SDM seharusnya dimulai sedini mungkin sejak janin dalam kandungan. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM dimasa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan sejak masa janin dalam kandungan. Kekurangan energi kronik (KEK) merupakan suatu keadaan dimana status gizi seseorang buruk disebabkan karena kurangnya konsumsi pangan sumber energi yang mengandung zat gizi makro yang berlangsung lama atau menahun (Rahmat et al, 2011) masalah KEK sebelum kehamilan dapat diperbaiki melalui konseling sebelum seorang wanita menikah sehingga wanita yang sudah terdeteksi KEK sebelum dia hamil, maka dapat dilakukan penanganan untuk memperbaiki masalah KEK pada wanita tersebut.

Kekurangan Energi Kronik (KEK) sering diderita oleh wanita usia subur (WUS). Wanita Usia Subur (WUS) adalah wanita yang berada pada masa kematangan organ reproduksi dan organ reproduksi tersebut telah berfungsi dengan baik, yaitu pada rentang usia 15 – 49 tahun termasuk wanita hamil, wanita tidak hamil, ibu nifas, calon pengantin, remaja putri, dan pekerja wanita. KEK menggambarkan asupan energi dan protein yang tidak adekuat. Salah satu indikator untuk mendeteksi risiko KEK dan status gizi WUS adalah dengan melakukan pengukuran antropometri yaitu pengukuran lingkar lengan atas (LILA) pada lengan tangan yang tidak sering melakukan aktivitas gerakan yang berat. Nilai ambang batas yang digunakan di Indonesia adalah nilai rerata LILA < 23,5 cm yang menggambarkan terdapat risiko kekurangan energi kronik pada kelompok wanita usia subur (Angraini, 2018).

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih sebesar 395 per 100.000 kelahiran hidup. Pendarahan menempati persentase tertinggi penyebab kematian Ibu sebesar 31.85%. Anemia dan KEK pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya pendarah dan infeksi yang merupakan faktor utama kematian ibu.

Berdasarkan upaya peningkatan kesehatan masa sebelum hamil, persiapan kondisi fisik, mental dan sosial harus disiapkan sejak dini yaitu dimulai dari masa remaja. Selain remaja, upaya peningkatan kesehatan masa sebelum hamil juga diberikan kepada pasangan calon pengantin (CATIN) dan wanita usia subur. Pelayanan peningkatan kesehatan tersebut di mulai dari Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan studi kasus tentang “Asuhan Kebidanan Dasar Pada Calon Pengantin Dengan KEK (Kekurangan Energi Kronik) Di Puskesmas Ingin Jaya”

 

1.2         Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatka rumusan masalah adalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Dasar Pada Calon Pengantin Dengan KEK (Kekurangan Energi Kronik) Di Puskesmas Ingin Jaya?

 

1.3         Tujuan Penelitian

Penulis dapat mempelajari dan memahami penerapan asuhan kebidanan menggunakan pengumpulan data dan pendokumentasian dengan metode SOAP gangguan kesehatan gizi pada catin dengan KEK di puskesmas Ingin Jaya.

1.4         Manfaat Penelitian

1.             Bagi lahan praktek

Dapat dimanfaatkan untuk penyempurnaan layanan bagi tenaga kesehatan khususnya profesi bidan dalam asuhan kebidanan pada kasus gangguan kesehatan gizi pada dengan KEK.

2.             Bagi Penulis

Untuk menambah wawasan penulis dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada kasus gangguan kesehatan gizi pada catin dengan KEK.

3.             Bagi Pasien

Membantu dalam hal memberikan pengertian secara jelas perawatan pada kasus Kekurangan Energi Kronik (KEK), sehingga klien dapat mengerti dan melaksanakanya di rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1         Tinjauan Teoritis Medis

1.        Kekurangan Energi Kronik (KEK)

a.    Pengertian

Kekurangan Energi Kronik (KEK) adalah salah satu keadaan malnutrisi atau keadaan patologis akibat kekurangan secara relatif atau absolut satu atau lebih zat gizi (Supariasa, 2014)

Kekurangan Energi Kronik (KEK) sering diderita oleh wanita usia subur (WUS). Wanita Usia Subur (WUS) adalah wanita yang berada pada masa kematangan organ reproduksi dan organ reproduksi tersebut telah berfungsi dengan baik, yaitu pada rentang usia 15 – 49 tahun termasuk wanita hamil, wanita tidak hamil, ibu nifas, calon pengantin, remaja putri, dan pekerja wanita. KEK menggambarkan asupan energi dan protein yang tidak adekuat. Salah satu indikator untuk mendeteksi risiko KEK dan status gizi WUS adalah dengan melakukan pengukuran antropometri yaitu pengukuran lingkar lengan atas (LILA) pada lengan tangan yang tidak sering melakukan aktivitas gerakan yang berat. Nilai ambang batas yang digunakan di Indonesia adalah nilai rerata LILA < 23,5 cm yang menggambarkan terdapat risiko kekurangan energi kronik pada kelompok wanita usia subur (Angraini, 2018).

 

b.      Etiologi KEK

Keadaan KEK terjadi karena tubuh kekurangan satu atau beberapa jenis zat gizi yang dibutuhkan. Beberapa hal yang dapat menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi antara lain: jumlah zat gizi yang dikonsumsi kurang, mutunya rendah atau keduanya. Zat gizi yang dikonsumsi juga mungkin gagal untuk diserap dan digunakan untuk tubuh (Helena, 2013).

 

 

c.       Fisiologis

Kekurangan energi kronis (KEK) memberikan tanda dan gejala yang dapat dilihat dan diukur. Menurut Supariasa (2014), tanda klinis KEK meliputi :

1)      Berat badan < 40 kg atau tampak kurus dan LILA kurang dari 23,5 cm.

2)      Tinggi badan <145 cm

3)      Ibu menderita anemia dengan HB <11 gr/dl

4)      Lelah, letih, lesu dan lunglai

5)      Bibir tampak pucat

6)      Nafas pendek

7)      Denyut jantung meningkat

8)      Susah BAB

9)      Nafsu makan berkurang

10)  Kadang-kadang pusing

11)  Mudah mengantuk

 

d.      Patofisiologis

Patofisiologis penyakit gizi kurang terjadi melalui lima tahapan yaitu : Pertama, ketidakcukupan zat gizi, apabila ketidakcukupan zat gizi ini berlangsung lama maka persediaan/cadangan jaringan akan digunakan untuk memenuhi ketidakcukupan itu. Kedua, apabila ini berlangsung lama, maka akan terjadi kemerosotan jaringan, yang ditandai dengan penurunan berat badan. Ketiga, terjadi perubahan biokimia yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium. Keempat, terjadi perubahan fungsi yang ditandai dengan tanda yang khas. Kelima, terjadi perubahan anatomi yang dapat dilihat dari muncunya tanda klasik (Supariasa dkk., 2014)

 

e.       Faktor-faktor yang mempengaruhi kekurangan energi kronik (KEK)

1)      Jumlah asupan makanan

2)      Usia ibu

3)      Beban kerja/aktivitas

4)      Penyakit/infeksi

5)      Pengetahuan ibu tentang gizi

6)      Pendapatan keluarga

 

f.       Dampak KEK

KEK dapat memberi dampak pada kesehatan. Individu yang menderita KEK akan mengalami berat badan kurang atau rendah, serta produktivitasnya akan terganggu karena tidak dapat begerak aktif sebab kekurangan gizi. Apabila KEK terjadi pada wanita usia subur (WUS) dan ibu hamil makan akan berdampak pada proses kehamilan, melahirkan, dan berat badan bayi. Ibu hamil yang berisiko KEK (LILA < 23,5 cm) kemungkinan akan mengalami kesulitan persalinan, pendarahan, dan berpeluang melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang akhirnya dapat mengakibatkan kematian pada ibu dan/atau bayi (Proverawati & Ismawati, 2010).

Status gizi sebelum hamil atau selama hamil memiliki peluang 50% dalam mempengaruhi tingginya kasus kejadian bayi BBLR di negara berkembang. Hasil meta analisis World Health organization (WHO) Collaboration Study menyimpulkan bahwa berat badan dan tinggi badan ibu sebelum hamil, indeks masa tubuh dan lingkar lengan atas (LILA) merupakan faktor yang mempengaruhi bayi BBLR (Sarumaha, 2018). Wanita hamil yang mengalami KEK sejak mudanya memiliki risiko melahirkan bayi dengan BBLR 4,8 kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak mengalami KEK (Syofianti, 2013).

Status kekurangan energi kronis sebelum kehamilan dalam jangka panjang dan selama kehamilan akan menyebabkan ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), anemia pada bayi baru lahir, mudah terinfeksi, abortus, dan terhambatnya pertumbuhan otak janin (Siti, 2013). Kurang energi kronis pada masa usia subur khususnya masa persiapan kehamilan maupun saat kehamilan dapat berakibat pada ibu maupun janin yang dikandungnya. Terhadap persalinan pengaruhnya dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya, dan pendarahan. Pengaruhnya terhadap janin dapat menimbulkan keguguran/abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, dan berat badan lahir rendah (BBLR) (Pratiwi, 2018).

 

g.      Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan LILA dapat dilakukan untuk menunjang penegakan diagnosa klien. Lingkar lengan atas (LILA) adalah pengukuran antopometri yang dapat menggambarkan keadaan status gizi dan untuk mengetahui resiko KEK atau gizi kurang. Kategori KEK adalah LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian merah pita LILA (Supariasa, 2014)

1)      Tujuan pengukuran LILA

a)      Mengetahui risiko KEK wanita usia subur (WUS), baik ibu hamil maupun calon ibu untuk menapis wanita yang mempunyai risiko melahirkan bayi berat lahir rendah.

b)      Meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar lebih berperan dalam pencegahan dan penanggulangan KEK.

c)      Mengembangkan gagasan baru dikalangan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak.

d)     Mengarahkan pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran WUS yang menderita KEK

e)      Meningkatkan peran dalam upaya perbaikan gizi WUS yang menderita KEK (Supariasa, 2014)

2)      Ambang batas

Ambang batas atau cut off point ukuran LILA WUS dengan risiko KEK di indonseia adalah 23, 5 cm. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebit mempunyai risiko KEK (Suparisa, 2014)

 

 

 

3)      Cara mengukur LILA

Pengkuran LILA dilakukan melalui urutan-urutan yang telah ditetapkan, pengukuran dilakukan dengan pita LILA dan ditandai dengan sentimeter. Terdapat 7 urutan pengukuran LILA yaitu :

a)      Tetapkan posisi bahu dan siku, yang diukur adalah pertengahan lengan atas sebelah kiri dan lengan dalam keadaan tidak tertutup kain/pakaian.

b)      Letakkan pita antara bahu dan siku

c)      Tentukan titik tengah lengan, beri tanda.

d)     Lingkar pita LILA pada tengah lengan

e)      Pita jangan terlalu ketat atau longgar

f)       Cara membaca sesuai dengan skala yang benar

g)      Catat hasil pengukuran LILA (Supariasa, 2014)

4)      Indeks Massa Tubuh (IMT)

Status gizi untuk dewasa (usia 18 tahun keatas) dapat menggunakan indeks massa tubuh (IMT). Di indonesia sejak tahun 1958 digunakan cara perhitungan berat badan normal berdasarkan rumus :

Berat badan normal = (tinggi badan – 100) – 10% (tinggi badan – 100)

IMT merupakan alat yang digunakan untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan berat badan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai harapan hidup berkepanjangan (Supariasa, 2014)

              Menurut Permenkes nomor 41 tahun 2014 yang dimaksud dengan berat badan normal untuk orang dewasa adalah :

Jika IMT 18,5-25,0 untuk mengetahui nilai IMT, dapat dihitung dengan rumus berikut : IMT = Berat Badan (Kg) / Tinggi Badan x Tinggi Badan (m)

 

 

h.      Penatalaksanaan

Penatalaksanaan untuk remaja wanita pra nikah dengan KEK adalah dengan memberikan konseling mengenai gizi seimbang pada calon pengantin, dengan konseling tersebut diharapkan calon pengantin mau melakukan apa yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan untuk bisa meningkatkan asupan nutrisi, sehingga masalah KEK dapat teratasi.

Upaya penanggulangan masalah KEK dapat dilakukan dengan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dalam bentuk biskuit yang dibagikan kepada seluruh WUS dan ibu hamil yang mengalami KEK, pemberian tablet Fe atau penambah darah untuk mencegah terjadiya anemia pada ibu hamil, serta melakukan program konseling kepada Wanita Usia Subur (WUS) mengenai masalah kesehatan reproduksi, kesiapan sebelum hamil, persalinan, nifas dan konseling pemilihan alat kontrasepsi KB. Gizi dikatakan sempurna jika makanan yang dikonsumsinya mengandung zat gizi yang seimbang, jumlahnya sesuai dengan kebutuhan dan tidak belebihan. Makanan yang baik dan seimbang akan menghindari masalah di saat hamil, melahirkan bayi yang sehat, dan memperlancar ASI. Apabila konsumsi energi kurang, maka energi dalam jaringan otot/lemak akan digunakan untuk menutupi kekurangan tersebut. Kekurangan energi akan menurunkan kapasitas kerja, hal ini biasanya terjadi sebagai proses kronis dengan akibat penurunan berat badan(Muhamad & Liputo, 2017).

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

STUDI KASUS

 

3.1 Tanggal dan tempat penelitian

 

Hari dan tanggal         : Kamis, 25 November 2021

Tempat                        : Puskesmas Ingin Jaya

 

Identitas

Nama                                       : Nn. N           

Umur                                       : 27 Tahun

Alamat                                    : Gp. Pasie Lamgarot

Agama                                     : Islam

Pendidikan                              : S1

Pekerjaan                                 : Pengajar

Suku/Bangsa                           : Aceh/Indonesia

 

S:

Nn. N datang ke Puskesmas Ingin Jaya, ingin memeriksakan kesehatan dan ingin suntik imunisasi TT untuk persyaratan pernikahan. Nn. N mengatakan ia berencana langsung hamil setelah pernikahan.

 

A.    Riwayat Obstetri

1.      Riwayat Menstruasi

HPHT                                   : 28 Oktober 2021

Menarche                             : 14 Tahun

Lama                                    : 5-6 Hari

Siklus                                   : 28 Hari, teratur.

Warna Darah                        : Merah Kehitaman

Banyaknya                           : Ganti pembalut lebih dari 3-4 kali/hari selama 3 hari awal pertama, hari berikutnya 2-3 kali/hari

2.      Riwayat Kesehatan

Riwayat Penyakit pernah diderita      : Tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga                : Tidak memiliki riwayat penyakit keluarga

Riwayat pengakit ginekologi              : Tidak ada

 

3.      Riwayat Imunisasi TT

Jenis Imunisasi

Tanggal pelaksanaan

T1

1995

T2

2003

T3

Sekarang, 2021

T4

 

T5

 

 

B.     Pola Kehidupan Sehari – hari

1.    Pola diet/nutrisi dan cairan:

·         Nutrisi : 2-3x/hari porsi sedikit (ibu mengatakan jarang makan)

·         Cairan : Minum air putih 7 gelas sehari

2.    Pola Eliminasi:

·         BAB   : 1x dalam sehari, konsistensi lembek dan berwarna kuning

·         BAK   : 4-5x dalam sehari, warna kuning jernih

3.    Pola Aktivitas

Olahraga jarang dilakukan, Setiap harinya hanya melakukan pekrjaan rumah seperti biasa yaitu menyapu, mengepel dan mencuci piring.  

4.    Pola Istirahat:

·         Tidur malam            : 7 jam

·         Tidur siang               : + 1 jam

5.    Pola Personal Hygiene:

 Mandi 2x sehari, ganti baju 2x sehari, gosok gigi 2x sehari keramas 2x seminggu

O:

 K/U : Baik

Kesadaran: composmentis

Tanda-tanda vital (TTV)

TD       : 100/70 mmHg

N         : 90 x/m

RR       : 19 x/m

T          : 36,1 C

BB       : 47 kg

TB       : 163 cm

LILA   : 21 cm

            IMT     : 17.7

            Cara menghitung : 1,75 x 1,75 = 2,65

kemudian BB di bagi hasil kuadran TB, 47 : 2,65 =17,7

 

Pemeriksaan Fisik

·         Kepala       : Bersih,tidak ada ketombe

·         Wajah        : Normal, tidak ada oedema

·         Mata          : Conjungtiva merah muda,sclera putih

·         Telinga       : Bersih, tidak ada serumen

·         Hidung      : Bersih,tidak ada polit

·         Mulut         : Bersih, tidak ada caries

·         Leher         : Normal,tidakada pembengkakan kelenjar tyroid.

·         Payudara   : Simtris,tidak ada benjolan dan putting susu menonjol

·         Abdomen  : Bersih,tidak ada bekas luka operasi

·         Genetalia   : Tidak ada keputihan abnormal

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 25 November 2021 jam 10.45 WIB

·         Hb                                     : 11,0 gr/dl

·         Golongan Darah    : A

·         Plano Test              : (-)

·         Hepatitis                : (-)

·         HIV                       : (-)

·         SYPHILIS                        : (-)

A:

            Nn.N usia 27 tahun dengan KEK Prakonsepsi pranikah

            Keadaan umum baik

 

P:

 

1.             Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa tanda-tanda vital dalam batas normal, didapatkan tanda-tanda  mengalami KEK dan berat badan kurang sehingga dikhawatirkan saat terjadi kehamilan maka ibu berisiko keguguran, janin IUGR, bayi lahir dengan BBLR, bahkan kematian bayi.

2.             Menganjurkan Nn. N untuk memperbaiki pola makannya menjadi makan dengan gizi seimbang,menambah kalori setiap kali makan seperti menambah karbohidrat seperti nasi, jagung, kentang,dll dengan porsi yang lebih banyak dan makan dengan teratur 3 kali sehari. Selain itu Nn. N juga perlu konsumsi lauk, buah dan sayur untuk persiapan organ reproduksi dan tubuh yang sehat. Selain itu juga memberi KIE untuk calon suami untuk mempersiapkan kesehatannya dengan  mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang agar system reproduksinya sehat.

3.             Memberitahu pada ibu untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dengan memperhatikan status gizi sebelum hamil dan pada saat hamil kelak. Serta lebih meningkatkan aktivitas fisik atau memperbanyak olahraga.

4.             Memberi KIE pada ibu mengenai tujuan dilakukan imunisasi TT dan memberitahu ibu bahwa akan diberikan imunisasi TT di lengan kiri atas. Status TT Nn.N saat ini berarti TT3.

5.             Memberitahu ibu efek samping imunisasi TT yaitu terasa nyeri di daerah bekas penyuntikan dan jangan lupa mengompres bekas suntikan dengan air hangat.

6.             Menyuntikan imunisasi TT 0,5 ml di lengan kiri atas secara SC untuk mencegah tetanustoxoid pada ibu. Nn.N telah disuntik dan tidak ada reaksi syok anafilaktik

7.             Mencatat tanggal suntik TT ke 4 yaitu 1 tahun setelah T3 dan diharapkan ibu wajib mendapatkan imunisasi tetanus lengkap (T5)

8.             Memberikan pendidikan kesehatan tentang nutrisi pra nikah, pendidikan kesehatan meliputi pengertian gizi pra nikah, manfaat gizi pranikah, menjelaskan zat gizi yang diperlukan seperti vit B12, vit E, zat besi, Zink, Kebutuhan protein dan asam folat.

9.             Memberikan pendidikan kesehatan tentang persiapan kehamilan meliputi kehamilan yang ideal, hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam kehamilan dan tanda-tanda kehamilan.

10.         Menganjurkan untuk melakukan kunjungan ulang jika ada keluhan

11.         Nn. N telah mengerti dengan penjelasan dari bidan dan ibu bisa menggulangi kembali apa yang telah di jelaskan oleh bidan.

12.         Melakukan pendokumentasian. Telah dilakukan

 

 


 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

4.1         Penjelasan

 

Pada bab ini membahas mengenai proses manajemen asuhan kebidanan menurut SOAP pada Nn. N. dengan gangguan kesehatan gizi yaitu Kekurangan Energi Kronik (KEK) secara terperinci mulai dari langkah pertama yaitu pengkajian data sampai dengan penatalaksanaan sebagai langkah terakhir. Pada kasus ini Nn. N ingin mengetahui kesehatannya sebelum menikah dan ingin suntik imunisasi TT. Berdasarkan data subjektik diperoleh bahwa Nn.N berusia 27 tahun.

Data objektif pada pasien dengan kasus KEK adalah hasil pemeriksaan fisik dan TTV dalam batas normal, akan tetapi Nn. N memiliki LILA 21 cm yang termasuk dalam kategori KEK. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau dibagian merah pita LILA, artinya wanita tersebit mempunyai risiko KEK (Suparisa, 2014). Status KEK sebelum kehamilan dalam jangka panjang dan selama kehamilan akan menyebabkan ibu melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Disamping itu, akan mengakibatkan anemia pada bayi baru lahir, mudah terinfeksi, abortus, dan terhambatnya pertumbuhan otak janin ( Supariasa, 2016). Dari hasil pemeriksaan lab kepada Nn. N bahwa Hb 11,0 gr/dl yang berarti Hb normal, golongan darah A, dan pemeriksaan HIV, Syphilis, Hepatitis adalah negatif, serta plano tets juga negatif yang artinya pasien dalam keadaan tidak hamil.

Setelah dilakukan pengkajian data subjektif dan objektif, maka dilakukan analisis terhadap Nn.N dengan pemberian imunisasi TT pada catin (pranikah) penatalaksanaan yang diberikan pada Nn. N diantaranya memberikan konseling mengenai pemberian imunisasi TT, dan pemeriksaan cek laboratorium. Manfaat imunisasi TT untuk pencegahan dan perlindungan diri yang aman terhadap penyakit tetanus dilakukan dengan pemberian 5 dosis imunisasi TT untuk mencapai kekebalan penuh.

Konseling selanjutnya dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi agar memelihara kesuburan, memantau dan mengusahakan berat badan yang ideal, kebutuhan (zink dan zat besi, protein asam folat, vit E dan vit B12) tercukupi, menciptakan kualitas generasi penerus yang lebih baik. Menganjurkan pasien makan makanan yang bergizi ( nasi, lauk, sayur, buah ), mencukupi kebutuhan cairan dengan minimal 1,5 liter perhari, menganjurkan pasien untuk memperbanyak makan sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan, daging, dan tidak pantang makanan.

 Data subjektif dan objektif yang penulis temukan saat melakukan pengkajian mendukung ditegakkannya analisa kebidanan pada Nn N. umur 27 tahun dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.           Kesimpulan

 

Setelah dilaksanakan asuhan kebidanan secara menyeluruh dengan menggunakan manajemen kebidanan menurut SOAP dan data perkembangan soap maka penulis dapat menyimpulkan Pada pengkajian Nn.N usia 27 tahun dengan KEK pranikah didapatkan data subjektif dan data objektif. Data subjektif di peroleh dari wawancara dengan pasien dimana pasien ingin suntik imunisasi TT dan memeriksakana kesehatan sebelum menikah serta pasien ingin segera langsung hamil. Dan data Objektif Nn. N memiliki LILA yaitu 21 cm Hal ini menunjukkan ada masalah pada gizi Ny.N Meskipun dari hasil lab Hb normal yaitu11,0 g/dl. Setelah dilakukan pengkajian, menunjukkan adanya temuan diagnosis kebidanan yaitu : Calon pengantin wanita dengan KEK.

Masalah yang timbul adalah ia jarang makan teratur dan sering makan sembarangan, menu yang ia pilih sering kali tidak bergizi seimbang dan makan hanya 2-3 kali sehari dengan porsi yang sedikit. Nn. N mengaku sudah terbiasa makan sedikit dan jarang.. Pasien dianjurkan meningkatkan pola makan dan banyak mengkonsumsi sayur-sayuran, buah-buahan, ikan dan makanan bergizi lainnya. Pasien di beri konseling tentang pencegahan dan Dalam evaluasi pada Nn.N dengan KEK didapatkan hasil yaitu bahwa pasien sudah mengerti dan bersedia melakukan anjuran dari bidan.

 

B.       Saran

  1. Bagi Lahan Praktek

Diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kebidanan dengan konseling, informasi dan edukasi(KIE) tentang gizi yang diperlukan untuk wanita usia subur serta persiapan untuk kehamilan.

  1. Bagi Penulis

Diharapkan lebih memperdalam ilmu dan teori tentang KEK, sehingga dapat mengambil tindakan secara lebih cepat dan tepat. Selain itu mahasiswa diharapkan dapat mengkaji setiap informasi yang dapat menunjang analisa dengan rinci sehingga pendokumentasian dapat dilakukan sesuai dengan managemen langkah varney.

  1. Bagi pasien

Banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi contohnya, sayur- sayuran,buah-buahan dan makanan yang bergizi lainnya.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anggraini, A.C. (2018) Asupan Gizi, Nutrisional Care Process. Yogyakarta : Graha Ilmu

Dinkes Provinsi Aceh, Profil Kesehatan Provinsi Aceh Tahun 2019, Banda Aceh: Dinkes Provinsi Aceh, 2019.

Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. (2019) HIV/AIDS dan IMS Penularan dan Pencegahan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Hardiansyah, Supariasa IDN (2014). Ilmu Gizi Teori & Aplikasi. Jakarta : Penerbit Buku Kedojteran EGC

Helena, 2013. Gambaran Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Trimester Pertama dan Pola Makan dalam pemenuhan Gizi. www. repository.usu.ac.id. 25 November 2021, 20.50 WIB.

Kemenkes RI (2018) Kesehatan Reproduksi dan Seksual Bagi Calon Pengantin. Kementrian Kesehatan RI.

Muhamad, Z., & Liputo, S. (2017). Peran Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Menanggulangi The Role Of The Local Government Policy In Eradication Of. 7(November), 113–122.

Sarumaha, O. (2018). Pengaruh Pemberian Siomay Ikan Gabus Terhadap Status Gizi (IMT dan LILA) Pada Wanita Usia Subur Yang Kekurangan Energi Kronik di Kelurahan Paluh Kemiri. Politeknik Kesehatan Medan.

Siti, M. (2013). Faktor Penyebab Ibu Hamil Kurang Energi Kronis. Infokus, 3(3), 40–62.

Supariasa, I Dewa Nyoman, (2014) Pendidikan dan Konsultasi Gizi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Syofianti, H. (2013). Pengaruh Risiko Kurang Energi Kronis Pada Ibu Hamil Terhadap Berat Badan Bayi Lahir Rendah (Analisis Kohort Ibu DI Kabupaten SawahluntoSijujung Tahun 2007). Universitas Indonesia.

Paramata, Y., & Sandalayuk, M. (2019). Kurang Energi Kronis pada Wanita Usia Subur di Wilayah Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo. Gorontalo Journal of Public Health, 2(1), 120. https://doi.org/10.32662/gjph.v2i1.390

Pratiwi, S. K. (2018). Hubungan Pendapatan Keluarga dan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Puuwatu Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Politeknik Kesehatan Kendari.

Prawita, A., Susanti, A. I., & Sari, P. (2017). Survei Intervensi Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronik (KEK) di Kecamatan Jatinangor Tahun 2015. Jurnal Sistem Kesehatan, 2(4).

Proverawati, A., & Ismawati, C. (2010). Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Nuha Medika.

No comments:

Post a Comment